Bimbingan Skripsi saat Pendemi Covid-19 itu sesuatu banget!!

Setiap orang memiliki tujuan hidup yang beraneka ragam. Mereka memilih mewujudkan tujuan-tujuan hidup tersebut tentu dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan pendidikan di perguruan tinggi. Sebagaimana mahasiswa yang memiliki bentuk cita-cita sebagai salah satu tujuan hidup tentu tidak menyia-siakan selama duduk di bangku perkuliahan.

Skripsi, siapa yang tidak mengenalnya sebagai tugas akhir yang menjadi syarat penting kelulusan bagi mahasiswa. Berbentuk seperti buku yang berisi kumpulan tulisan-tulisan yang penting dari hasil karya penelitian. Tidaklah mudah menempuhnya, orang-orang milenial mengatakan dengan: “Jalan fii sabilillah bersama Skripsi”. Ternyata tidak hanya urusan cinta yang fii sabililaah. Fii sabilillah sendiri merupakan orang-orang yang berjuang di jalan Allah.

Zaman sekarang tidak hanya tentang cinta yang perlu diperjuangkan dengan cara fii sabillah. Generasi milenial juga memperjuangkan masa depan dengan cara menyelesaikan skripsi di jalan yang benar. Skripsi menjadi tugas akhir yang harus diselesaikan mahasiswa sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana. Skripsi tidak hanya membutuhkan kesiapan mental dan fisik dalam mengerjakannya agar lancar dan tidak membuat stres. Pertanyaan demi pertanyaan pun semakin membuat mahasiswa akhir menjadi tertekan,

“Sudah sampai bab mana skripsinya?”

“Kapan seminar proposalnya?”

“Kapan siding skripsinya?”

“Kapan wisudanya?”

“Kapan nikahnya?” (pertanyaan terakhir ini khusus untuk jomblo fii sabilillah aja)

Bagi kalian yang sedang tidak berjuang mungkin terkesan biasa saja, tetapi bagi yang sedang dalam perjuangan pasti merasa menyakitkan. Jadi mulai saat ini, tolong hindari pertanyaan-pertanyaan di atas dengan memberikan semangat kepada teman kalian.

Banyak cerita yang menghiasi mahasiswa tingkat akhir dalam memperjuangkan gelar yang diimpikannya. Mulai dari topik yang tidak sesuai dengan keinginan pembimbing, dosen pembimbing yang sulit dihubungi, buku-buku referensi yang cukup langka, kompetisi yang terjadi antar temen satu pembimbing, tantangan melawan malas, hingga tidak bisa terlupakan dengan bimbingan via daring selama dampak pendemi Covid-19. Cerita tersebut tidak hanya datang dari mahasiswa melainkan juga dosen.

Mengacu pada Surat Keputusan Rektor tentang pelaksanaan kegiatan akademik semester genap, kampus UIN Sunan Kalijaga tidak diliburkan dan kegiatan akademik tetap berlangsung secara online. Mulai dari perkuliahan, bimbingan, hingga sidang proposal dan sidang skripsi. Hal tersebut dikeluarkan dalam Surat Edaran yang disampaikan Rektor kepada segenap sivitis UIN Sunan Kalijaga melalui laman akademik.

Adanya imbuan batasan aktivitas membuat mahasiswa tingkat akhir kesulitan dalam proses mengerjakan skripsi yang terlambat karena bimbingan skripsi harus dilakukan via email atau jaringan (daring) dengan dosen pembimbing. Bimbingan skripsi yang biasanya tatap muka dilakukan dosen dengan mahasiswanya terganggu atau mengalami kesulitan, karena dosen belum terbiasa melakukan bimbingan online dan mahasiswa tidak bisa mendapatkan penjelasan secara detail. Sebenarnya tidak jadi masalah, jika semua berjalan lancar sesuai harapan.

Bimbingan skripsi via daring tidaklah mudah, tapi adakah alasan untuk menyerah? Apapun kesulitan yang saat ini kita alami, yakinlah bahwa kita semuanya pasti bisa kita lewati. Sebagai manusia pasti pernah mengeluh atau bersedih, tapi setelahnya kembali tegakkan kepala karena perjuangan harus dilanjutkan. Tidak perlu membebani diri sendiri dengan cara berfikir negatif. Tenangkan dirimu dengan cara berfikir positif. Bertanya bukanlah berarti ingin membuatmu tertekan. Sebaliknya, mereka yang bertanya adalah orang-orang yang peduli denganmu. Justru pertanyaan-pertanyaan mereka sebenarnya bisa dijadikan motivasi. Bersama mereka membuatmu selalu ingat bahwa kewajibanmu belum selesai.

Di sisi lain, saya merasa beruntung. Sebab, dapat mengumpulkan data penelitian lapangan sebelum merebahnya wabah corona. Maka, ketika mulai ada pembatasan aktivitas seperti sekarang, saya tinggal mengolah data lapangan. Kegiatan bimbingan via daring ini dapat memberikan manfaat yang besar, karena bisa dilakukan di rumah dan bisa dekat dengan keluarga. Tidak ada alasan buat gaptek (gagal teknologi) dalam kegiatan bimbingan via daring. Dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan digital memiliki peran singnifikan yang bisa dimanfaatkan seluas-luasnya. Jadi, skripsi yang berat bisa dijalani seru-seru saja. Cari teman yang bisa diajak diskusi, berbagi ilmu atau curhat, dan menjalin kedekatan dengan dosen pembimbing.

Andai situasi ini segera normal, saya bisa optimis wisuda semester genap tahun ini. Namun melihat situasi sekarang, saya mulai pesimis untuk bisa lulus bulan November mendatang. Artinya, saya harus membayar kembali Uang Kuliah Tunggal (UKT) untuk semester ini. Ujian munaqosah saja belum, kalau virus ini keterusan mungkin ambil wisuda bulan Februari. Tapi, sebetulnya keberatan soalnya harus membayar UKT lagi!!

(Atik Khunaefah).

Kolom Terkait

Kolom Terpopuler