Internasionalisasi Kurikulum menjadi Jembatan untuk Mengoptimalkan Pengelolaan Program studi PIAUD

Foto bersama dosen EBC University, Rosmalina Abrell
Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) bertanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dengan baik. Yang bertujuan untuk mewujudkan program studi unggulan serta menghasilkan calon pendidik PAUD yang mampu bersaing dengan lulusan asing. Melalui acara yang dikemas dalam bentuk focus group discussion yang dilaksanakan pada Rabu (14/11) di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Program Studi PIAUD mengundang salah satu dosen dari ECB University, Ibu Rosalina Abrell. Dalam sambutannya, Dr. Erni Munaztiwi, M. M., selaku ketua program studi, kegiatan focus group discussion dengan tema Internasionalisasi Program Studi bertujuan untuk mengasah kapasitas mahasiswa dan dosen guna mengoptimalkan pengelolaan program studi.
Selaku Pengelola International Office, Dr.Muhajir menyampaikan dalam sambutannya bahwa kendala yang saat ini masih dihadapi adalah fakultas sering mengadakan kegiatan student mobility yang masih bersifat visit. Hal ini sangat disayangkan mengingat waktu yang singkat tidak mungkin mengasah potensi mahasiswa secara optimal. Oleh karena itu, Pengelola International Office menyelenggarakan beberapa program dalam rangka internationalisasi kurikulum. Antara lain mendatangkan dosen ahli dari berbagai negara, tercatat untuk tahun ini sudah mendatangkan 6 dosen ahli untuk menjadi narasumber di kegiatan seminar maupun diskusi. Selain itu, International Office juga mengadakan student mobility serta membuka beasiswa bagi mahasiswa asing yang ingin melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di UIN Sunan Kalijaga.
Acara ini diisi dengan diskusi bersama Ibu Rosmalina, yang menghasilkan kesimpulan bahwa internasionalisasi kurikulum merupakan upaya mempelajari tokoh-tokoh pendidikan baik secara teori maupun praktek, menyelenggarakan kegiatan baik di dalam kurikulum maupun di luar kurikulum untuk mengoptimalkan potensi mahasiswa dan instansi pendidikan. Internasionalisasi kurikulum diperlukan untuk membangun toleransi lintas negara. Sehingga akademisi diharapkan tidak hanya membandingkan budaya luar. Tetapi juga sebagai bentuk refleksi diri dengan mempelajari etos kerja dan etos belajar lintas budaya. Adapun tahapan internalisasi kurikukulum yang pertama, review and reflect. Terdapat tiga hal yang bisa diambil dari review dan refleksi ini, yaitu rasional (merumuskan tujuan akhir dari internasionalisasi kurikulum secara rasional. Misalkan mencetak lulusan yang mampu berinovasi); perencanaan dan praktek (merencanakan program-program yang efektif serta merealisasikannya); stakeholder (setiap stakeholder institusi harus memiliki antusias dan kekompakan dalam usaha internasionalisasi kurikulum, baik rektor, fakultas, maupun jurusan). Kedua, imagine. Merumuskan program-program yang akan dilaksanakan. Ketiga, revise and plan. Merencanakan program-program secara matang serta mengidentifikasi faktor pendukung maupun faktor penghambat. Keempat, act. Melaksanakan program yang telah direncanakan. Kelima, evaluate. Mengukur keberhasilan program serta melakukan kajian ulang terhadap program yang telah dijalankan.