FGD di PIUAD UIN Sunan Kalijaga Soroti Pentingnya Deteksi Dini Kekerasan terhadap Anak: Belajar dari Pengalaman Guru di Jerman
FGD di PIUAD UIN Sunan Kalijaga Soroti Pentingnya Deteksi Dini Kekerasan terhadap Anak: Belajar dari Pengalaman Guru di Jerman
Dalam upaya memperkuat kesejahteraan anak, Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini yang difasilitasi oleh International Office Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengadakan Forum Group Discussion (FGD) bertajuk "Mengawal Kesejahteraan Anak: Pengalaman Guru Anak Usia Dini di Jerman" pada hari Senin, 12 Agustus 2024. Kegiatan ini digelar di ruang 106 Smart Room Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, dengan melibatkan 46 peserta, termasuk dosen, mahasiswa, serta guru-guru RA dan TK di Yogyakarta.
FGD ini menyoroti tantangan dan pendekatan dalam mendeteksi serta menangani kasus kekerasan dan kelalaian terhadap anak, baik di Jerman maupun Indonesia. Berdasarkan data dari Statistik Federal Jerman (Destatis), pada tahun 2023 tercatat 62.300 kasus anak-anak yang berisiko mengalami kekerasan fisik, psikologis, atau seksual, serta kelalaian. Sekitar 59% dari kasus tersebut melibatkan tanda-tanda kelalaian, dan lebih dari sepertiga menunjukkan tanda-tanda kekerasan psikologis (DW, 2023). Data ini menyoroti peningkatan signifikan dan menggarisbawahi pentingnya intervensi dini yang efektif.
Sigit Purnama, Kaprodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD), menekankan bahwa kondisi serupa juga terjadi di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), tercatat lebih dari 11.000 kasus kekerasan terhadap anak pada tahun 2022, yang meliputi kekerasan fisik, emosional, dan seksual. Situasi ini diperparah oleh pandemi COVID-19, yang memperburuk kesulitan ekonomi dan sosial yang dihadapi banyak keluarga, mengakibatkan peningkatan kasus kelalaian terhadap anak-anak.
Dalam diskusi yang dipandu oleh Mrs. Iman Andrea Reimann dari The Muslim Daycare Center Regenbogen-Kidz Berlin, para peserta mendapatkan wawasan baru tentang praktik pendidikan anak usia dini di Jerman, khususnya bagaimana guru di sana menghadapi tantangan sebagai minoritas Muslim dan bagaimana mereka mengenalkan keberagaman budaya kepada anak-anak. "Pengenalan kebudayaan dan agama lain sejak dini penting untuk membentuk pemahaman yang lebih luas pada anak-anak, meski hal ini mungkin asing bagi sebagian pendidik di Indonesia," ujar Reimann.
Kegiatan ini tidak hanya membuka wawasan para peserta tentang pentingnya peran guru dalam mendeteksi tanda-tanda awal kekerasan dan kelalaian, tetapi juga menekankan perlunya peningkatan kompetensi guru dalam melakukan intervensi yang tepat. "Diskusi ini menjadi langkah awal untuk menyusun pedoman praktis dan program pelatihan berkelanjutan yang akan membantu guru di Indonesia dalam menangani isu-isu kesejahteraan anak secara efektif," kata Sigit Purnama dalam penutupannya.
FGD ini diharapkan dapat menghasilkan strategi dan rekomendasi yang dapat diterapkan dalam program pelatihan guru, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini dan intervensi dalam kasus kekerasan dan kelalaian terhadap anak, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di negara-negara lain dengan tantangan serupa. [Naf'a]