Critical Education dan Ethical Dialogue dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Sebuah cita-cita yang sangat ideal dan mulia. Namun kenyataannya idealisme yang dicita-citakan untuk meningkatkan derajat kemanusiaan melalui dunia pendidikan tidak selamanya sejalan dengan apa yang diharapkan. Hal ini dapat disaksikan dari realitas yang ada di sekitar kita bahwa pendidikan masih memainkan peran tradisionalnya dengan memandang bahwa anak didik merupakan produk yang dihasilkan oleh dunia pendidikan.

Tema ini merupakan bagian dari bentuk kegelisahan tentang relasi yang terbangun dalam dunia pendidikan, yang saat ini cenderung masih bersifat hierarkis, dan bahkan sarat dengan nilai-nilai instruktif. Ruang-ruang kelas seolah menjadi sekat yang mengaburkan batas-batas ruang dialog guru-murid dalam membangun relasi dan interaksi. Jika pun ada ruang dialog, terkesan masih menyisakan kesan dialog yang bersifat monologis, hingga lahirlah apa yang disebut dengan “budaya bisu”. Ruang kelas menjadi seperti “hantu” yang menyeramkan bagi murid untuk bertanya, mengemukakan pendapat, apalagi protes terhadap guru, dan ini menjadi jalan untuk membelenggu nalar kritis anak didik.

Membangun dialog yang bersifat dialogis dan sarat dengan nuansa kooperatif, menjadi tujuan yang diikhtiarkan dari mazhab pendidikan kritis. Karena sesungguhnya yang menjadi kunci utama adalah terbangunnya relasi yang egaliter dan humanis. Oleh karena itu, jalan menuju praksis pendidikan yang sejalan dengan mazhab pendidikan kritis adalah meniscayakan adanya relasi dialogis yang terjalin secara harmonis.

Namun, bukan berarti ketika ruang dialog sudah terbuka dan menjadi jalan keluar bagi belenggu relasi dunia pendidikan yang dianggap memasung nalar kritis anak didik, kemudian bisa diekspresikan secara liar dan massif, namun landasan etis dalam berdialog adalah menjadi kiblat yang harus tetap dipatuhi. Sehingga menjadi kritis tidak harus identik dengan perilaku liar dan anarkis. Tetapi menjadi kritis adalah dengan tetap mengedepankan nilai-nilai etis-humanis menuju ruang dialog yang dialogis.

Penulis: Rohinah (Dosen PIAUD, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)