Bagi Orang Tua dan Pendidik: Pendidikan Seks Anak Usia Dini Tabu atau Perlu?

Fenomena kekerasan seksual dalam dunia pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Sebagaimana diungkakan Komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonseia), Retno Listyarti bahwa tercatat sejumlah kasus yang berkaitan dengan kekerasan seksual begitu banyak terjadi. Hal ini memberikan gambaran bahwa tidak adanya kenyamanan bagi anak untukmengeyampendidikan di lingkungan sekolah. (www.tempo.co)

Dua bulan lalu di daerah Mojokertodigemparkandengan peristiwa seorang guru pendamping mencabuli anak di bawah umur alias usia TK. Hal ini tentu menambah deretan kasus kekerasan pada anak yang menimpa pendidikan di Indonesia.(www.inews.iddanradarmojokerto.id).

Oleh karenanya, memahami dan mengajarkan pendidikan seks sejak usia dini sangat penting untuk dilakukan oleh orang tua ataupun pendidik (selaku orang tua kedua) di lingkungan sekolah. Tujuannya supaya anak-anak terhindar dari peristiwa seperti di atas. Terlebih perkembangan anak usia dini memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan selanjutnya. Orang tua atau pendidik perlu melakukan langkah yang kongkrit untuk mengentaskan peristiwa tersebut.

Pertama,berikan kasih sayang kepada anak. Memberi kasih sayang kepada anak harus dilakukan terutama orang tua atau pendidik. Apabila bercermin dari Rasulullah saw. beliau memberikan contoh teladan kasih sayang kepada cucunya Hasan dengan cara menciumnya. Selain itu, Rasulullah menuntun untuk bersikap lemah lembut kepada anak dan melarang membunuh anak tersebut.

Kedua,perlakukanlah anak sesuai dengan jenis kelaminnya. Firman Allah swt dalam Qs. Ali Imran [3]: 36 Artinya: “Maka ketika melahirkannya, dia berkata: “Ya Tuhanku, aku telah melahirkan anak perempuan.” Padahal Allah lebih tahu apa yang dia lahirkan, dan laki-laki tidak sama dengan perempuan. “Dan aku memberinya nama Maryam, dan aku mohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari (gangguan) setan yang terkutuk.” Ayat ini memberikan makna bahwa orang tua perlu menerima secara lapang dada dan selalu bersyukur terhadap jenis kelamin anak yang dilahirkan. Tidak sedikit orang tua yang mengharapkan anak lahirnya perempuan, tetapi sebaliknya. Sehingga tidak jarang ditemukan orang tua memperlakukan anaknya tidak sesuai dengan jenis kelaminnya. Salah satu contoh, anak laki-laki dalam berpakaian mengikuti pakaian perempuan. Dalam riwayat Bukhari dijelaskan bahwa “Rasulullah saw. melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak laki-laki.”

Ketiga,kenalkan anatomi tubuh kepada anak. Orang tua atau pendidik memiliki peran penting untuk mengenalkan anatomi tubuh. Dalam ajaran islam anak dapat dikenalkan dengan konsep aurot. Orang tua ataupun pendidik perlu menunjukkan bagian-bagian yang boleh dilihat dan tidak boleh dilihat oleh laki-laki ataupun perempuan.

Keempat,kenalkan norma dalam berpakaian. Orang tua atau pendidik perlu memberikan contoh secara nyata model berpakaian anak laki-laki dan perempuan. Sebagai orang tua tentu perlu konsisten memberikan teladan yang baik dimanapun posisinya. Namun, tanpa disadari ketika di rumah, terkadang anak melihat secara langsung orang tua lupa berpakaian yang tidak menutup aurot.

Dengan demikian, pendidikan seks sejak anak usia dini sangat diperlukan bagi orang tua atau pendidik bukan malah ditabukan agar nantinya anak terhindar dari kasus-kasus sebagaimana disebutkan di atas serta menghindarkan anak dari sikap trauma secara fisik ataupun psikisnya. [Muhammad Abdul Latif)