Lika-Liku Kuliah Online Ku

Jum'at terakhir sebelum kuliah berubah menjadi online. Hari itu sudah beredar berita mengenai pandemi yang tengah melanda dunia saat ini. Bisik-bisik mahasiswa pun sudah mulai terdengar mengenai berita bahwa kuliah kita akan dilaksanakan secara online. Saya sempat berfikir, ”Wah bagaimana ya rasanya kuliah online?.” Hingga tiba pada hari Sabtu di mana seluruh mahasiswa gempar akan hal itu. Teman sekelas saya banyak yang membuat 'status' di akun sosial media mereka. "Kuliahnya diganti online nih", "Wah kita kuliah dari rumah guys", "Seperti apa ya kira-kira kuliah online". Kurang lebih seperti itu cuitan mereka di sosial media. Hingga pada akhirnya, kuliah online benar-benar dilakukan. Bukan hanya kampus UIN Sunan Kalijaga, namun kampus-kampus yang lainnya pun juga sama.

Pada hari pertama kuliah online, saya merasakan, "Ada enaknya juga kuliah dari rumah, hemat bensin, juga bisa kuliah sambil melakukan pekerjaan rumah!". Waktu itu masih berjalan lancar karena saya masih berada di Jogja, di tempat saudara. Belum ada kendala yang berarti, karena di sana signal pun lancar. Hingga memasuki perkuliahan online hari kedua, waktunya presentasi. Alhamdulillah masih lancar juga, hanya saja waktu itu server sedikit eror karena banyak yang mengakses, hingga hari ketiga pun masih sama. Ada sebagian dosen yang hanya memberi tugas, artinya tidak setiap hari harus diskusi. Hingga waktu pun terus berjalan, sampai tak terasa sudah dua minggu kuliah online dilaksanakan. Lalu pada pertengahan Maret, saya memutuskan untuk pulang ke Ponorogo. Sebenarnya sedikit dilema antara pulang atau tetap di Jogja, mengingat situasi sedang tidak baik-baik saja. Dan, tepat 19 Maret saya pulang ke Ponorogo

Ponorogo, pertengahan Maret

Sebelumnya saya sudah memutuskan untuk isolasi mandiri di rumah agar tetangga sekitar tidak terganggu dengan kedatangan saya yang notabenenya dari luar kota. Namun ketika kuliah online dilaksanakan, di rumah saya benar-benar tidak ada signal sama sekali. Akhirnya saya beranjak dari rumah menuju area persawahan di belakang rumah saya. Alhamdulillah signal di sawah lumayan bagus dari pada signal di rumah saya. Tidak sengaja saya bertemu dengan tetangga saya yang hendak pergi ke sawah. Dia pun menyapaku “Loh, pulang Sof”, “Iya bude”, “Jogja sudah banyak yang terkena wabah itu ya?”. Tetangga saya banyak yang bertanya demikian, saya hanya menjawab dengan tersenyum. Mungkin mereka juga sedikit wsa-was dengan kepulangan saya yang memang tepat dengan pandemi yang sedang melanda. Hari pun terus berjalan, saya sudah di cek kesehatan oleh tenaga medis setempat dan tidak menunjukkan adanya gejala. Beberapa tetanggaku yang mendengar ini sedikit merasakan lega. Suatu hari ibu saya menyarankan pergi ke rumah teman saya yang rumahnya sedikit lebih tinggi dari rumah saya (kalau di desa saya menyebutnya dengan sebutan Puthuk) karena memang di sana signal lebih lancar di banding di area rumah saya. Dan benar saja, ketika berada disana, signal pun sangat lancar. Akhirnya saya pun melaksanakan kuliah online setip hari di rumah teman saya. Tidak hanya kuliah saja, namun training-training pun dilaksanakan secara online, Pusat Pengembangan Bahasa pun juga online. Jadi, tugas juga tidak hanya dari kuliah saja namun dari training-training tersebut. Tidak sedikit teman-teman saya yang mengeluh akan hal ini. Tugas training setiap minggu dan tugas kuliah pun setiap hari semakin bertambah.

Tak terasa sudah memasuki bulan Ramdhan. Ramadhan tahun ini memang berbeda. Sholat Tarawih harus diberi jarak satu meter, tadarus pun dibatasi tidak boleh lebih dari jam 9 malam. Banyak yang belum bisa bertemu keluarganya karena memang kondisi saat ini tidak seperti biasanya, banyak yang kehilangan pekerjaan, bahkan banyak yang kehilangan keluarga akibat wabah ini. Beberapa cara dapat kita lakukan untuk mencegah pandemi ini berkelanjutan. Salah satunya yaitu menaati peraturan pemerintah. Sebagaimana dalam surah An-Nisa' ayat 59, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Al-Qur'an dan Sunnahnya, jika kamu beriman kepada Allah di hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." Kita juga dapat melakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan, dan kebersihan diri sendiri tentunya. Menjaga jarak, dan menghindari kerumunan yang berpotensi tinggi akan penularan. Semoga semuanya lekas membaik dan berjalan seperti sedia kala. Kuliah di kampus masing-masing, dan mereka yang terdampak semoga lekas pulih. Aamiin

Yogyakarta, awal Maret 2020

Sofi Naila Sa’adah